About Me

Nama saya Ahmad Fawzan Rohman. Lahir di Sumenep, 26 Juni 1991. Tahun kelahiran yang cukup aman: belum ada media sosial, jadi masa kecil tidak terdokumentasi dalam bentuk status galau atau foto buram bertuliskan “jangan lihat aku dari masa laluku.” Dulu kalau sedih ya cukup diam, tidak perlu upload kutipan motivasi sambil pakai lagu galau.

Saya anak pertama dari empat bersaudara. Posisi yang sejak kecil otomatis mendapat jabatan tidak resmi: cadangan harapan keluarga, tempat bertanya adik-adik, sekaligus orang yang sering dianggap paling tahu padahal kadang juga cuma menebak dengan wajah yakin.

Perjalanan pendidikan saya dimulai dari madrasah, lalu pesantren, lalu kuliah. Jalannya panjang, penuh buku, tugas, hafalan, dan momen ketika niat belajar kadang kalah telak oleh rasa kantuk setelah makan siang. Tapi begitulah pendidikan: kadang yang paling melelahkan bukan materinya, melainkan cara bertahan agar tetap terlihat paham saat sebenarnya pikiran sedang ke mana-mana.

Hidup di pesantren mengajarkan satu hal penting: disiplin itu kadang datang bukan karena sadar, tapi karena takut dipanggil pengurus. Dari sana juga belajar bahwa manusia bisa tetap berjalan normal meskipun tidur kurang, makan cepat, dan hidup dalam jadwal yang lebih ketat dari agenda pejabat.

Sekarang saya mengajar di sekolah dasar. Dunia yang kelihatannya sederhana, padahal isinya justru paling jujur. Anak-anak itu makhluk yang belum pandai berpura-pura. Kalau suka bilang suka, kalau bosan wajahnya langsung lebih jujur daripada hasil survei nasional.

Menjadi guru membuat saya sadar bahwa teori pendidikan sering terlihat sangat rapi di buku, tetapi berubah bentuk ketika bertemu murid yang tiba-tiba bertanya hal di luar prediksi. Kadang baru mulai menjelaskan pelajaran, sudah ada yang bertanya hal yang membuat logika orang dewasa harus kerja lembur.

Di luar mengajar, saya menulis blog sejak 2009. Awalnya sederhana: menulis karena ada pikiran yang terlalu ramai kalau hanya disimpan sendiri. Lama-lama blog jadi tempat menaruh banyak hal—catatan, opini, pengalaman, sampai keresahan kecil yang kadang ternyata dirasakan banyak orang juga. tak disangka blog ini pun telah banyak menginspirasi, dibuktikan dengan penggunaannya sebagai referensi dalam berbagai jurnal, skripsi, dan artikel ilmiah atas nama Ahmad Fawzan Rohman, dan Fazan

  1. https://journal.unhas.ac.id/index.php/jmsk/article/view/4425
  2. https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/azkiya/article/view/1142/760
  3. http://repository.iainkudus.ac.id/499/9/9.%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf
  4. https://www.journal.uinjkt.ac.id/index.php/citahukum/article/view/16505/0
  5. https://jurnal3.ar-raniry.ac.id/index.php/Pionir/article/view/12180
  6. https://journal.unhas.ac.id/index.php/jmsk/article/download/4425/2522/9538
  7. https://journal2.um.ac.id/index.php/jpaud/article/view/6011
  8. http://repo.uinsatu.ac.id/8984/10/DAFTAR%20RUJUKAN.pdf
  9. https://online.anyflip.com/fpdeq/hqez/files/basic-html/page86.html
  10. http://repo.iain-tulungagung.ac.id/5905/9/DAFTAR%20PUSTAKA.pdf
  11. http://repository.upi.edu/28825/9/S_JKR_1300197_Bibliography.pdf
  12. https://idr.uin-antasari.ac.id/10275/9/DAFTAR%20PUSTAKA.pdf
  13. https://siat.ung.ac.id/files/wisuda/2017-2-1-86206-151413227-bab5-31122017094646.pdf
  14. https://repository.uinsaizu.ac.id/2301/2/COVER_ABSTRAK_DAFTAR%20ISI_BAB%20I_BAB%20V_DAFTAR%20PUSTAKA.PDF
  15. http://digilib.uinsa.ac.id/16745/5/Bab%202.pdf
  16. dan masih banyak lagi
Menulis itu bagi saya mirip ngobrol dengan orang yang belum tentu dikenal, tapi entah kenapa tetap ada yang membaca sampai habis. Kadang tulisan sederhana malah lebih sering sampai ke orang lain daripada nasihat panjang yang disampaikan serius.

Blog juga mengajarkan satu kenyataan lucu: di internet, tulisan yang dibuat dengan niat biasa saja kadang justru ramai, sementara yang ditulis serius berjam-jam malah lewat begitu saja seperti iklan diskon yang tidak menarik.

Tapi tidak apa-apa. Menulis memang bukan soal ramai atau sepi. Kadang cukup tahu bahwa ada satu dua orang membaca lalu berpikir, “wah, ternyata ada juga yang mikir begini.” Itu sudah cukup.

Karena pada akhirnya, hidup terlalu banyak hal aneh untuk dilewati tanpa dicatat. Kalau tidak ditulis, nanti malah numpuk di kepala, lalu keluar dalam bentuk overthinking tengah malam.

Dan seperti biasa, sebagian orang sibuk mengejar terlihat hebat, sebagian lagi cukup sibuk bertahan agar tetap waras. Saya mungkin ada di kelompok kedua—sambil sesekali menulis supaya hidup tidak terasa terlalu datar ☕😄

Ngereng Eyatore Akomentar

Bagaimana Pendapat Anda ?